Staf SMALGA ikuti Spiritual Building Training
[yayasanalislam.com] Di dalam dunia psikologi dikenal istilah pre supposition (anggapan dasar) pada diri manusia. Pre supposition ini bermula dari segala realitas yang terjadi di sekitar kita yang disebut sebagai territory yang masuk ke dalam pikiran sehingga memunculkan peta pikiran. Pengalaman pribadi maupun kejadian-kejadian yang melingkungi manusia (territory) ini memiliki struktur tertentu yang akan membentuk peta pikiran (internal map).
Peta pikiran ini akan melahirkan pre supposition atau anggapan dasar yang dirasakan sebagai kebenaran, padahal belum tentu itu sebuah kebenaran. Pre supposition inilah yang menjadi keyakinan (believe) pada diri manusia. Ada dua jenis anggapan dasar, yang pertama bersifat konstruktif dan yang kedua bersifat destruktif. Sayangnya banyak orang yang tanpa sadar memiliki anggapan dasar yang salah (destruktif) sehingga cenderung menggiring orang kepada kegagalan. Pada kenyataannya anggapan dasar yang dimiliki oleh orang-orang yang sukses berbeda dengan yang dimiliki oleh orang-orang yang banyak mengalami kegagalan. Beberapa anggapan dasar yang destruktif inilah yang dicoba untuk dibongkar oleh trainer Mr. Amir Faisal dalam pelatihan sehari yang diselenggarakan Yayasan Perguruan Al Islam Surakarta yang diperuntukkan bagi para guru dan kepala sekolah di lingkungan yayasan perguruan Al Islam.Pelatihan bertajuk “Smart teaching NLP untuk kepala sekolah dan guru†ini dilaksanakan pada hari Selasa 30 Juni 2009 di Hotel Grand Setiakawan Surakarta diikuti oleh 500 peserta dari SD, SMP, SMA. SMK, MI, MA yang berada dilingkungan yayasan perguruan Al-Islam sejak pukul 8 pagi hingga menjelang maghrib.
Dalam pelatihan tersebut sang trainer, bapak Amir menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk mengidentifikasi diri kita lalu mengelolanya dengan perangkat pikiran, hati dan perasaan kita sendiri. Peserta diajak untuk melakukan reedukasi dan reprograming perilaku keseharian yang akan bermanfaat bukan hanya dalam kaitan profesi sebagai ustadz atau guru, tetapi juga bermanfaat bagi kehidupan masa depan di dunia dan di akhirat.
Poin penting yang dikemukakan Bapak Amir dalam pelatihan tersebut adalah adanya anggapan dasar-anggapan dasar yang sebenarnya bersifat destruktif yang bersemayam dalam diri kita harus dibongkar dan disingkirkan untuk diganti dengan anggapan dasar yang konstruktif. Sebagai contoh seorang pengusaha bengkel sepeda motor yang sukses padahal sebelumnya ia berprofesi sebagai kenek ketika ditanya kunci kesuksesannya, ia menjawab lugas dengan bahasa jawa , “ Barang ketok kok mas†(Ini barang yang kelihatan… dan tentunya hal yang mudah, tidak sulit). Inilah contoh anggapan dasar yang sangat jitu dalam memunculkan energi kesuksesan orang tersebut. Dilain pihak, betapa banyak orang gagal hanya karena “kalah†sebelum bertanding dengan mengucapkan kata-kata†Wah, sulit sekali …â€, atau “Aduh, saya memang tidak punya bakatâ€, atau “ Biar sajalah hidup saya begini-begini saja…†Keluhan-keluhan itu semua sebenarnya berasal dari sifat-sifat kerdil yang bersumber dari kurangnya rasa syukur, bahkan cenderung kufur, kurang tawakkal, tidak qonaah, dan sebagainya.
Pada dasarnya anggapan-anggapan dasar yang konstruktif muncul dari kesadaran diri kita bahwa Allah menciptakan kita sebagai khalifah di muka bumi. Allah telah memberikan perangkat yang sempurna kepada kita berupa fitrah manusia yang dilengkapi bashirah, fikrah, hati dan perasaan kita. Kesadaran akan tanggungjawab manusia sebagai khalifah akan memunculkan sifat-sifat mulia seperti selalu bersyukur, husnudhon kepada Allah, optimis dalam berkarya dan berusaha, ikut berbahagia melihat kesuksesan orang lain, dan sebagainya.
Dalam pelatihan tersebut, peserta juga diajak untuk mendalami metode pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL), gerakan senam otak, dan bagaimana mengelola VAK dalam pembelajaran. (***)




















Selamat datang calon pemimpin masa depan! Selamat datang di sekolah yang akan mempersiapkan Anda menjadi generasi Muslim unggul di masa mendatang. Ya, benar: SMA AL ISLAM 3 Surakarta. Sebagai sebuah institusi pendidikan di Kota Surakarta, SMA Al Islam 3 Surakarta berusaha untuk membentuk generasi muslim unggul sebagai penerus estafet kepemimpinan di masa mendatang. Dengan sistem pembelajaran berbasis kompetensi, membekali setiap siswanya dengan pemahaman aqidah Islamiyah yang kuat, membentuk pribadi yang berakhlaqul karimah, cerdas, terampil, ulet serta memiliki etos kerja tinggi. Karakter seperti ini tentu sangat dibutuhkan di zaman modern seperti sekarang ini dimana semakin banyak kompetitor terutama dari sistem pendidikan barat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Disinilah peran SMA Al Islam 3 Surakarta. Bergabunglah bersama kami, dan mari bersama-sama membentuk peradaban umat yang maju dan modern dengan berlandaskan Islam sebagai rohmatal lil 'alamin.